|
Curah hujan yang tinggi pada akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007 pada beberapa tempat di Indonesia, serta keadaan sumberdaya alam sudah banyak yang rusak, menyebabkan kemampuan dan daya dukung alam untuk menampung turunnya hujan menjadi berkurang secara? drastis.? Hal ini telah menyebabkan terjadinya bencana alam, baik berupa banjir maupun tanah longsor pada beberapa daerah. Bencana ini bukan Hanya merugikan harta, benda bahkan nyawa masyarakat, namun juga telah merusak tanaman yang dimiliknya. Tentunya ini semua menyebabkan duka dan nestapa para petani yang terkena dampak langsung dari bencana tersebut. Berdasarkan informasi yang masuk dan dapat dipantau oleh Ditjen Hortikultura, sampai pada bulan Desember 2006 telah terjadi bencana alam banjir yang melanda laHan tanaman hortikultura seluas 750.8 Ha (249.9 Ha? diantaranya puso) terdapat di 3 (tiga) provinsi, yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Riau, serta bencana longsor seluas 2,3 Ha (juga mengalami puso) di Provinsi Sumatera Barat, dengan rincian sebagai berikut: - <!--[if !supportLists]-->Berdasarkan provinsi yang mendapat bencana, luas lahan tanaman hortikultura yang dilanda bencana alam banjir, secara berturut-turut dari yang terluas, adalah; Provinsi Riau seluas 342,3 Ha (puso 57,9 Ha), Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam seluas 294,0 Ha (puso 192 Ha), dan Provinsi Sumatera Utara seluas 114,5 Ha.
- Berdasarkan jenis komoditasnya, banjir melanda 3 (tiga) jenis tanaman buah dengan luas total 246 Ha (puso 4 Ha), meliputi; jeruk seluas 201 Ha (puso 3 Ha), pisang seluas 8 Ha, dan semangka seluas 37 Ha (puso 1 Ha). Di samping itu, banjir melanda 10 (sepuluh) jenis tanaman sayuran dengan luas total 504,8 Ha (puso 245,9 Ha), dengan rincian; cabai seluas 315,1 Ha (puso 103,5 Ha), tomat seluas 15,0 Ha (puso 10,0 Ha), bawang merah seluas 0,9 Ha (puso 0,8 Ha), terong seluas 40,8 Ha (puso 37,8 Ha), timun seluas 33,4 Ha (puso 19,0 Ha), kacang panjang seluas 88,6 Ha (puso 68,3 Ha), bayam seluas 8,0 Ha (puso 4,0 Ha), gambas seluas 0,5 Ha, pare seluas 2,3 Ha (puso), dan kangkung seluas 2,5 Ha (puso).
- Longsor sejauh ini hanya terjadi di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, melanda tanaman cabai seluas 1,5 Ha dan tanaman bawang merah seluas 0,8 Ha, dan mengakibatkan kedua komoditas sayuran tersebut mengalami puso.
Secara lengkap rincian bencana alam banjir dan puso yang terjadi pada tanaman hortikultura dapat dilihat pada Tabel 1. Mengingat sampai pada awal bulan Pebruari 2006 hujan terus meningkat dan terjadi pada beberapa propinsi selain yang disebutkan diatas, maka kemungkinan kerusakan tanaman hortikultura karena bencana banjir dan longsor ini akan terus meningkat. Menghadapi musibah tersebut, maka diperlukan penanganan segera dan tindak lanjut, baik oleh pemerintah, bantuan swasta maupun dari masyarakat.? Beberapa langkah tindak lanjut yang diperlukan dalam penanganan bencana ini antara lain adalah - <!--[if !supportLists]-->Melakukan koordinasi antar institusi (pusat dan daerah) untuk menangani bencana dan meminta daerah menyampaikan laporan resmi ke Departemen Pertanian.
- Mengusulkan kepada Sekjen Departemen Pertanian untuk mengalokasikan anggaran dan kegiatan bencana alam TA 2007 untuk menangani masalah ini.
- Institusi pemerintah akan mengupayakan pemberian bantuan dan penanganan bencana tersebut dari kegiatan pada TA.2007.
- Penanganan bencana banjir dan longsor ini tentunya harus dilakukan secara bersama dan terpadu, baik oleh pemerintah pusat (Departemen Pertanian, Ditjen Hortikultura, departemen lainnya), maupun oleh Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten) yang mengalami bencana.
Kepada pemerintah daerah yang daerahnya mengalami bencana tersebut diharapkan supaya segera melakukan penanganan sesuai dengan wewenangnya, dan bantuan dari pemerintah pusat dapat diupayakan melalui dana bencana alam yang ditangani oleh Sekjen. Departemen Pertanian. Tabel 1. Kerusakan Hortikultura karena Bencana Banjir dan Longsor (Data sampai Desember 2006) No | Propinsi | Kabupaten | Komoditi (Ha) | Luas Bencana | Terkena | Puso | 1 | N. Aceh D | - Bireun | Cabai | 19.0 | 12.0 | | (Banjir) | | Tomat | 15.0 | 10.0 | | | | Kacang panjang | 9.0 | 6.0 | | | - Aceh Utara | Cabai | 81.0 | 0.0 | | | - Aceh Timur | Cabai | 54.0 | 54.0 | | | -Aceh Tamiang | Cabai | 18.0 | 18.0 | | | | Kacang panjang | 47.0 | 47.0 | | | | Terong | 29.0 | 29.0 | | | | Timun | 16.0 | 16.0 | | | - Gayo | Cabai | 6.0 | 0.0 | Jumlah | 294.0 | 192.0 | 2 | Sumatera Utara | - Langkat | Cabai | 92.5 | 0.0 | | (Banjir) | | Semangka | 22.0 | 0.0 | Jumlah | 114.5 | 0.0 | 3 | Riau | -Kampar | Jeruk | 32.0 | 0.0 | | (Banjir) | | Pisang | 8.0 | 0.0 | | | | Cabai | 9.8 | 9.0 | | | | Kacang panjang | 8.3 | 7.5 | | | | Terong | 2.0 | 2.0 | | | | Gambas | 0.5 | 0.0 | | | | Bayam | 4.0 | 4.0 | | | | Kangkung | 2.5 | 2.5 | | | -Rokan Hulu | Jeruk | 139.0 | 0.0 | | | -Rokan Hilir | Jeruk | 30.0 | 3.0 | | | | Semangka | 15.0 | 1.0 | | | | Cabai | 21.5 | 9.0 | | | | Kacang Panjang | 7.8 | 7.8 | | | | Timun | 3.3 | 3.0 | | | | Pare | 2.3 | 2.3 | | | | Terong | 6.8 | 6.8 | | | -Indragiri Hulu | Cabai | 11.8 | 0.0 | | | | Kacang panjang | 16.5 | 0.0 | | | | Bawang merah | 0.1 | 0.0 | | | | Timun | 14.1 | 0.0 | | | | Terong | 3.0 | 0.0 | | | | Bayam | 4.0 | 0.0 | Jumlah | 342.3 | 57.9 | 4 | Sumatera Barat | -Solok | Cabai | 1.5 | 1.5 | | (longsor) | | Bawang merah | 0.8 | 0.8 | Jumlah | 2.3 | 2.3 | Total Bencana Banjir | 750.8 | 249.9 | Total Bencana Longsor | 2.3 | 2.3 |
|