Pencarian
Menu Utama
Informasi
Data dan Statistik
Status Pengunjung
Saat ini ada 11 tamu online
Statistik Pengunjung
Milis Hortikultura
Email:
Visit this group
Home arrow Berita arrow Berita Terbaru arrow INFO DARI KUNKER SPESIFIK KOMISI IV DPR RI KE SULUT
INFO DARI KUNKER SPESIFIK KOMISI IV DPR RI KE SULUT Cetak E-mail
Sumber : Dr. Ir. Yul H. Bahar   
Jumat, 09 Juli 2010
    Pada bulan Juni 2010, sebagian anggota Komisi IV DPR RI telah melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke Provinsi Sulawesi Utara, untuk melihat kondisi dan mendapatkan masukan langsung dari lapangan terkait dengan topik masalah yang sedang di bahas di DPR RI saat ini, dalam hal ini termasuk RUU Hortikultura. Selain melihat kawasan hortikultura Tomohon, objek kunjungan lainnya adalah kerusakan terumbu karang di Bitung dan Bunaken. Berbagai institusi dan pelaku usaha (pengusaha, asosiasi, pedagang, petani, kelompok tani, pemuda tani)  telah menjadi mitra diskusi untuk mendapatkan masukan dan bertukar fikiran, selain itu berbagai objek yang terkait dengan materi kunjungan juga telah didatangi.
    Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR ke kawasan hortikultura Tomohon, telah dilakukan bersamaImage dengan Dirjen Hortikultra dan jajarnnya, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, dan didampingi pihak terkait lainnya (Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Kehutanan, Pemda Sulawesi Utara, dll). Kunjungan Kerja ke kawasan hortikultura ini dikatakan spesifik karena terkait dengan penetapan kebijakan dan program pengembangan hortikultura ke depan dan mendapakan  masukan langsung dari lapangan untuk penyempurnaan Rancangan UU Hortikultura yang saai ini sedang dirumuskan di DPR.
   Sejalan dengan KUNKER DPR, dalam upaya melengkapi dan mendukung informasi pelaksanaan pengembangan kawasan hortikultura di Sulawesi Utara juga telah dilakukan pemantauan, observasi lapangan dan diskusi dengan petani, kelompok tani dan petugas di Kabupaten Minahasa. Kabupaten ini berseblahan dengan kota Tomohon bahkan membantuk kawasan pengembangan, khususnya untuk sayuran.

Kawasan Hortikultura Tomohon
    Selama ini Kota Tomohon dikenal sebagai kota Bunga, ini didukung penuh oleh Pemda dan masyarakatpun antusias melakoninya, bahkan untuk menyemarakkan hal tersebut telah ditetapkan pelaksanaan Tomohon Flower Festival yang merupakan agenda secara berkala setiap tahun, pada tahun ini akan dilaksanakan di akhir Juli 2010.  Dalam pembangunan pertanian, Pemda Tomohon sebenarnya telah mengaisikasikan daerahnya berdasarkan potensi pengembangan komoditas dan agrekosistem, yaitu Tomohon Utara sebagai sentra bunga, Tomohon Timur sebagai sentra sayuran yang bersambungan dengan daerah Minahasa, sementara bagian barat dan selatan merupakan daerah kehutanan dan tanaman pangan.  
    Selain terkenal dengan bunganya dan sebagaimana telah ditetapkan melalui Perda No 7/2008 sebagai Kota Bunga. Namun disamping itu secara turun temurun sebenarnya Tomohon juga sebagai sentra sayuran andalan di Sulawesi Utara, khususnya sayuran daun dan sayuran dataran tinggi.  Karenanya tidak salah Kunker Spesifik DPR RI datang kesini untuk mendapatkan gambaran kawasan hortikultura secara komprehensif. Beberapa kegiatan yang dilakukan dan objek kunjungan dalam Kunker Komisi IV DPR di kota Tomohon adalah;
  1. Sambutan resmi di Kantor Walikota Tomohon, rombongan diterima oleh Asisten Perekonomian yang mewakili Walikota dan Kepala Dinas Peranian Kota (karena Walikota dan Sekda sedang tidak ditempat). Cakupan acara adalah penyembutan secara resmi oleh Pemda, penyampaian maksud dan tujuan Kunker oleh pimpinan rombongan DPR, pemaparan potensi pengembangan pertanian daerah oleh Pemda,  dan diakhiri dengan tukar menukar cindera mata.
  2. Usaha tanaman hias bagi masyarakat di kota Tomohon merupakan usaha yang sudah turun temurun, namun penerapan teknologi maju untuk mengikuti permintaan pasar belum optimal pelaksanaannya.  Mendukung pengembangan agribisnis tanaman hias ini, setidaknya sudah tiga Perda diterbitkan, terkait denan penetapan Tomohon sebagai kota bunga, usaha tanaman hias dan pelaksanaan Festival BungaTomohon. ImageObjek kunjungan ke sentra bunga potong Krisan, adalah Gapoktan Medinela dan Kerknahel, terdapat di kecamatan Tomohon Utara.  Kelompok ini telah mengembangkan penanaman krisan dalam screen house sederhana dengan konstruksi bangunan dari bambu (memanfaatkan potensi lokal).  Pertumbuhan tanaman cukup bagus, hanya kadang kala terkendala dengan serangan hama, pasar sejauh ini tidak ada masalah meskipun hanya untuk memasok pasar lokal. Pada tahun 2009 Gapoktan ini telah mendapat bantuan benih dan sarana produksi dari Ditjen Hortikultura untuk pengembangan bunga krisan. Pada tahun 2009 kegiatan pengembangan tanaman hias dengan pendampingan intensif meliputi pelaksanaan SLPHT (pada 5 kelompok tani), penerapan SL-GAP pada satu elompok tani (Kerklely), penerapan GAP pada dua kelompok tani (Wangunenta dan Sahabat Tani) dan pengembangan kawasan tanaman hias mencakup 5 kelompok tani.  Pada tahun 2010 Kota Tomohon tetap mendapat dana pengembangan tanaman hias dari Ditjen hortikultura, bahkan telah ditetapkan sebagai kawasan pendampingan intensif. Bunga potong telah menjadi salah satu kegiatan utama di Tomohon, permintaan berkembang baik, kebijakan dan berbagai acara (events) telah dirancang untuk menjadikan bunga sebagai simbol atau icon daerah ini, seperti pergelaran Tomohon Flower Festival. Berbagai kegiatan, fasilitasi dan sarana telah dibuat untuk mendukung kegiatan ini, dan rencananya juga akan membuat Kawasan Khusus produksi bunga potong dengan membebaskan lahan pada lokasi khusus. Dalam pengembangan tanaman hias ini Pemda meminta dukungan kegiatan dan pendanaan dari pusat berupa dana tugas pembantuan, maupun DAK (pada tahun 2010 tidak dapat).
  3. Kunjungan ke sentra sayuran di Rurukan, merupakan dataran tinggi di sebelah timur kota Tomohon, yang juga akan dikembangkan sebagai daerah agrowisata berbasis sayuran organik.Image Daerah ini sangat potensial untuk pengembangan agrowisata, karena berada di dataran tinggi, lokai bukitnya strategis dengan pemandangan indah dan luas, dari sini dapat melihat ke daerah Minahasa, kota Bitung, danau Tondano, sebagian Manado, dll. Sudah lama daerah di kecamatan Tomohon Timur ini dikenal sebagai sentra sayuran seperti; kubis, kembang kol, tomat, buncis, kacang panjang, sawi, pak choi, brokoli, wortel, cabe, bawang daun, dll.  Secara tradisional produksi sayuran daerah ini telah lama memasok kebutuhan di kota Manado, Bitung, Kalimantan Timur, Ternate, Papua, Maluku, dan daerah lainnya di Kawasan Timur Indonesia.   
KUNKER DPR diarahkan ke lokasi kegiatan Kelompok Pemuda Tani Gema Agape diketuai oleh Alfred, yang mengebangkan sayuran organik secara terpadu mencakup pengembagan sayuran, ternak kelinci dan produksi pupuk organik cair maupun padat. Kelompok ini merupakan salah satu contoh kumpulan petani maju, karena itu secara teknis budidaya sayuran sudah bagus, anggota kelompok telah mampu dan punya banyak pengetahuan dan pengalaman. Hal yang perlu dikembangkan adalah inventarisasi sertifikasi pupuk orgaik di daerah sebagai sasaran pemasaran, pengaturan pola tanam produksi antar sentra sehingga menghindari terjadinya fluktuasi harga, promosi intensif produk sayuran organik dari Rurukan sehingga dapat menjadi trade mark tersendiri.  Salah satu bagian dari kegiatan kelompok ini adalah menjadi pusat pelatihan dan informasi pertanian organik.
Selain kelompok tani Agape, disini banyak petani yang bergerak di bidang agribisnis sayuran, sehingga perlu mendapat dukungan dan perhatian serius dalam pembinaan dan fasilitsi pemerintah/pemerintah daerah. Petani pelaku usaha kesulitan dalam pemasaran dan mendapatkan margin yang layak karena tidak ada bedanya dengan produk sayuran konvensional. Dalam menguasai dan mengembangkan pasar disarankan agar petani menerapkan perinsip Supply Chain Management, serta berhimpun dalam asosiasi kemudian melakukan kerjasama pemasaran dengan supermarket/hypermarket atau pemasok ke daerah lainnya.    Lebih dari itu perlu pencitraan pertanian dan produk organik Rurukan, disamping pengembangan aneka produk sayuran organik (termasuk keripik wortel).    

Sentra Sayuran Minahasa
    Kabupaten Minahasa akan mengembangkitkan potensi daerahnya sebagai sentra sayuran sehingga dapat berkiprah mengisi dan menguasai pasar domestik, terutama untuk kawasan timur Indonesia. Obsesi ini didukung dengan kondisi sumberdaya alam dan agroekosistem yang sangat baik (favorable), secara tradisional masyarakat sudah terbiasa melakukan budidaya dan agribisnis sayuran.  Dalam memacu pengembangan sayuran tersebut telah dilakukan fasilitasi pelaksanaan pengembangan kawasan pendampingan intensif pengembangan sayuran organik dan bawang merah di Kabupaten Minahasa oleh Ditjen. Hortikultura.  
    Observasi lapangan telah untuk memantau perkembangan dan pembinaan pelaksanaan, I lapangan telah dilakukan diskusi dengan pengurus kelompok tani penerima bantuan, yang didampingi oleh PPL, kepala BPP dan petugas pendamping.  Perkembangan pelaksanaan kegiatan 2010 diinfokan bahwa identifikasi untuk CPCL dan penunjukan kelompok sudah dilaksanakan, bahkan sebagian dana telah ditransfer ke rekening kelompok penerima bantuan.  Petugas pendamping telah ditunjuk oleh Dinas Pertanian Kabupaten untuk setiap lokasi pengembangan. Beberapa catatan hasil observasi lapangan dan diskusi dengan petani adalah;
  1. Pengembangan Sayuran Organik dilakukan dengan penekanan pada pengembangan budidaya wortel organik, dalam upaya menguasai pasar domestik dan menangkal masuknya wortel impor. Kegiatan melibatkan 12 kelompok di kecamatan Tomposo (secara tradisional merupakan sentra wortel) dengan pengaturan pola tanam antar lokasi sehingga tidak terjadi penumpukan produksi. Sebagian kelompok telah melakukan penyiapan lahan, melalui kegiatan ini juga digerakkan budaya Mapalus (gotong royog berkala) dalam agribisnis berkelompok, arisan kelompok, pertemuan anggota dan bimbingan intensif. Pengembangan sayuran organik dilakukan dengan penggunaan pupuk organik, minimalisasi pestisida buatan, pengolahan pupuk organik dari limbah dan sampah sekitar.
  2. Pengembangan budidaya bawang merah juga dilakukan di kecamatan Tomposo sebanyak 4 kelompok (Manialooran, Kamboja, Samperangan, Sukamau) namun pada lokasi yang terpisah dari lokasi penanaman wortel. Disini juga dilakukan pergiliran tanam antar kelompok, sebagian petani telah menanam dan juga ada yang masih tahap persiapan lahan (penanaman dilakukan menyesuaikan dengan musim) dan bergilir dengan tanaman padi.  Benih yang digunakan adalah jenis tuktuk, anakan tuktuk (diberi nama Magelang) dan Brebes.
    Mengingat pengembangan sayuran ini merupakan bagian dari kawasan intensif, maka dilakukan keterpaduan dari dukungan subsector lainnya.  Beberapa hal yang akan dipadukan dengan dukungan kegiatan dari Ditjen PLA adalah untuk penyediaan alat pengolah pupuk organik (APPO), pelatihan pembuatan kompos dan pupuk organik, serta pengembangan pengairan.  Sementara dari program Ditjen PPHP akan dipadukan  untuk penanganan pasca panen, pengembangan pasar lokal, pengolahan wortel menjadi keripik, dan promosi produksi.  Namun ironinya sejauh ini dukungan dana pendamping untuk kegiatan pembinaan dari APBD masih belum ada, sehingga keterpaduan dukungan dari daerah belum optimal, untuk itu Pemda akan mengupayakan dari APBD-P 2010. Dukungan dari Pemda diharapkan dalam hal penerapan GAP-SOP sampai tahap Registrasi Lahan Usaha, pengembangan kelembagaan dan kemitraan usaha, penyempurnaan sarana dan fasilitas agribisnis di lapangan

Catatan dan Masukan
    Dari hasil Kunker Spesifik DPR ini dapat dirumuskan bahwa perlu penekanan dan penyempurnaan cakupan materi dari RUU Hortikultura, termasuk penguatan; 1) Pengaturan penetapan dan pengelolaan kawasan hortikultura, 2) pemberdayaan petani produsen, pelaku usaha dan kelembagaan usaha, 3) pentingnya melakukan pencatatan hasil akrya dan produk dari suatu kelompok bila ingin dipasarkan (kecuali untuk kepentingan kelompok itu sendiri), 4) dukungan penyediaan sarana dan infrastruktur budidaya yang memadai, dan 5) adanya dukungan alokasi anggaran dan kegiatan yang perlu disediakan oleh pemerintah dan setiap Pemda di kawasan dan sentra Produksi hortikultura.  
Berbagai informasi dan masukan dari berbagai pihak dari kunjungan lapang ini tentunya akan digunakan dalam pembahasan lebih lanjut terhadap Rancangan Undang-undang Hortikultura oleh DPR RI.  Bagi jajaran Departemen Pertanian hal ini akan digunakan untuk merumuskan Daftar Isian Masalah (DIM) yang akan dibawakan dalam rapat-rapat pembahasan RUU Hortikultura ini di DPR.


Pemutakhiran Terakhir ( Selasa, 13 Juli 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Direktorat Jenderal Hortikultura
Alamat : Jl. AUP No. 3 Pasar Minggu - Jakarta Selatan 12520
Telp.  : (021) 7806775
Fax.   : (021) 7805880
Email  : support@hortikultura.go.id
© 2002 - 2007
Situs Direktorat
Situs Terkait
[ design-weedus ]