| INFO DARI KUNKER SPESIFIK KOMISI IV DPR RI KE SULUT |
|
|
| Sumber : Dr. Ir. Yul H. Bahar | |
| Jumat, 09 Juli 2010 | |
|
Pada bulan Juni 2010, sebagian anggota Komisi IV DPR RI telah melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke Provinsi Sulawesi Utara, untuk melihat kondisi dan mendapatkan masukan langsung dari lapangan terkait dengan topik masalah yang sedang di bahas di DPR RI saat ini, dalam hal ini termasuk RUU Hortikultura. Selain melihat kawasan hortikultura Tomohon, objek kunjungan lainnya adalah kerusakan terumbu karang di Bitung dan Bunaken. Berbagai institusi dan pelaku usaha (pengusaha, asosiasi, pedagang, petani, kelompok tani, pemuda tani) telah menjadi mitra diskusi untuk mendapatkan masukan dan bertukar fikiran, selain itu berbagai objek yang terkait dengan materi kunjungan juga telah didatangi.
Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR ke kawasan hortikultura Tomohon, telah dilakukan bersama dengan Dirjen Hortikultra dan jajarnnya, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, dan didampingi pihak terkait lainnya (Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Kehutanan, Pemda Sulawesi Utara, dll). Kunjungan Kerja ke kawasan hortikultura ini dikatakan spesifik karena terkait dengan penetapan kebijakan dan program pengembangan hortikultura ke depan dan mendapakan masukan langsung dari lapangan untuk penyempurnaan Rancangan UU Hortikultura yang saai ini sedang dirumuskan di DPR.Sejalan dengan KUNKER DPR, dalam upaya melengkapi dan mendukung informasi pelaksanaan pengembangan kawasan hortikultura di Sulawesi Utara juga telah dilakukan pemantauan, observasi lapangan dan diskusi dengan petani, kelompok tani dan petugas di Kabupaten Minahasa. Kabupaten ini berseblahan dengan kota Tomohon bahkan membantuk kawasan pengembangan, khususnya untuk sayuran. Kawasan Hortikultura Tomohon Selama ini Kota Tomohon dikenal sebagai kota Bunga, ini didukung penuh oleh Pemda dan masyarakatpun antusias melakoninya, bahkan untuk menyemarakkan hal tersebut telah ditetapkan pelaksanaan Tomohon Flower Festival yang merupakan agenda secara berkala setiap tahun, pada tahun ini akan dilaksanakan di akhir Juli 2010. Dalam pembangunan pertanian, Pemda Tomohon sebenarnya telah mengaisikasikan daerahnya berdasarkan potensi pengembangan komoditas dan agrekosistem, yaitu Tomohon Utara sebagai sentra bunga, Tomohon Timur sebagai sentra sayuran yang bersambungan dengan daerah Minahasa, sementara bagian barat dan selatan merupakan daerah kehutanan dan tanaman pangan. Selain terkenal dengan bunganya dan sebagaimana telah ditetapkan melalui Perda No 7/2008 sebagai Kota Bunga. Namun disamping itu secara turun temurun sebenarnya Tomohon juga sebagai sentra sayuran andalan di Sulawesi Utara, khususnya sayuran daun dan sayuran dataran tinggi. Karenanya tidak salah Kunker Spesifik DPR RI datang kesini untuk mendapatkan gambaran kawasan hortikultura secara komprehensif. Beberapa kegiatan yang dilakukan dan objek kunjungan dalam Kunker Komisi IV DPR di kota Tomohon adalah;
Selain kelompok tani Agape, disini banyak petani yang bergerak di bidang agribisnis sayuran, sehingga perlu mendapat dukungan dan perhatian serius dalam pembinaan dan fasilitsi pemerintah/pemerintah daerah. Petani pelaku usaha kesulitan dalam pemasaran dan mendapatkan margin yang layak karena tidak ada bedanya dengan produk sayuran konvensional. Dalam menguasai dan mengembangkan pasar disarankan agar petani menerapkan perinsip Supply Chain Management, serta berhimpun dalam asosiasi kemudian melakukan kerjasama pemasaran dengan supermarket/hypermarket atau pemasok ke daerah lainnya. Lebih dari itu perlu pencitraan pertanian dan produk organik Rurukan, disamping pengembangan aneka produk sayuran organik (termasuk keripik wortel). Sentra Sayuran Minahasa Kabupaten Minahasa akan mengembangkitkan potensi daerahnya sebagai sentra sayuran sehingga dapat berkiprah mengisi dan menguasai pasar domestik, terutama untuk kawasan timur Indonesia. Obsesi ini didukung dengan kondisi sumberdaya alam dan agroekosistem yang sangat baik (favorable), secara tradisional masyarakat sudah terbiasa melakukan budidaya dan agribisnis sayuran. Dalam memacu pengembangan sayuran tersebut telah dilakukan fasilitasi pelaksanaan pengembangan kawasan pendampingan intensif pengembangan sayuran organik dan bawang merah di Kabupaten Minahasa oleh Ditjen. Hortikultura. Observasi lapangan telah untuk memantau perkembangan dan pembinaan pelaksanaan, I lapangan telah dilakukan diskusi dengan pengurus kelompok tani penerima bantuan, yang didampingi oleh PPL, kepala BPP dan petugas pendamping. Perkembangan pelaksanaan kegiatan 2010 diinfokan bahwa identifikasi untuk CPCL dan penunjukan kelompok sudah dilaksanakan, bahkan sebagian dana telah ditransfer ke rekening kelompok penerima bantuan. Petugas pendamping telah ditunjuk oleh Dinas Pertanian Kabupaten untuk setiap lokasi pengembangan. Beberapa catatan hasil observasi lapangan dan diskusi dengan petani adalah;
Catatan dan Masukan Dari hasil Kunker Spesifik DPR ini dapat dirumuskan bahwa perlu penekanan dan penyempurnaan cakupan materi dari RUU Hortikultura, termasuk penguatan; 1) Pengaturan penetapan dan pengelolaan kawasan hortikultura, 2) pemberdayaan petani produsen, pelaku usaha dan kelembagaan usaha, 3) pentingnya melakukan pencatatan hasil akrya dan produk dari suatu kelompok bila ingin dipasarkan (kecuali untuk kepentingan kelompok itu sendiri), 4) dukungan penyediaan sarana dan infrastruktur budidaya yang memadai, dan 5) adanya dukungan alokasi anggaran dan kegiatan yang perlu disediakan oleh pemerintah dan setiap Pemda di kawasan dan sentra Produksi hortikultura. Berbagai informasi dan masukan dari berbagai pihak dari kunjungan lapang ini tentunya akan digunakan dalam pembahasan lebih lanjut terhadap Rancangan Undang-undang Hortikultura oleh DPR RI. Bagi jajaran Departemen Pertanian hal ini akan digunakan untuk merumuskan Daftar Isian Masalah (DIM) yang akan dibawakan dalam rapat-rapat pembahasan RUU Hortikultura ini di DPR. |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Selasa, 13 Juli 2010 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|










dengan Dirjen Hortikultra dan jajarnnya, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, dan didampingi pihak terkait lainnya (Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Kehutanan, Pemda Sulawesi Utara, dll). Kunjungan Kerja ke kawasan hortikultura ini dikatakan spesifik karena terkait dengan penetapan kebijakan dan program pengembangan hortikultura ke depan dan mendapakan masukan langsung dari lapangan untuk penyempurnaan Rancangan UU Hortikultura yang saai ini sedang dirumuskan di DPR.
Objek kunjungan ke sentra bunga potong Krisan, adalah Gapoktan Medinela dan Kerknahel, terdapat di kecamatan Tomohon Utara. Kelompok ini telah mengembangkan penanaman krisan dalam screen house sederhana dengan konstruksi bangunan dari bambu (memanfaatkan potensi lokal). Pertumbuhan tanaman cukup bagus, hanya kadang kala terkendala dengan serangan hama, pasar sejauh ini tidak ada masalah meskipun hanya untuk memasok pasar lokal. Pada tahun 2009 Gapoktan ini telah mendapat bantuan benih dan sarana produksi dari Ditjen Hortikultura untuk pengembangan bunga krisan. Pada tahun 2009 kegiatan pengembangan tanaman hias dengan pendampingan intensif meliputi pelaksanaan SLPHT (pada 5 kelompok tani), penerapan SL-GAP pada satu elompok tani (Kerklely), penerapan GAP pada dua kelompok tani (Wangunenta dan Sahabat Tani) dan pengembangan kawasan tanaman hias mencakup 5 kelompok tani. Pada tahun 2010 Kota Tomohon tetap mendapat dana pengembangan tanaman hias dari Ditjen hortikultura, bahkan telah ditetapkan sebagai kawasan pendampingan intensif. Bunga potong telah menjadi salah satu kegiatan utama di Tomohon, permintaan berkembang baik, kebijakan dan berbagai acara (events) telah dirancang untuk menjadikan bunga sebagai simbol atau icon daerah ini, seperti pergelaran Tomohon Flower Festival. Berbagai kegiatan, fasilitasi dan sarana telah dibuat untuk mendukung kegiatan ini, dan rencananya juga akan membuat Kawasan Khusus produksi bunga potong dengan membebaskan lahan pada lokasi khusus. Dalam pengembangan tanaman hias ini Pemda meminta dukungan kegiatan dan pendanaan dari pusat berupa dana tugas pembantuan, maupun DAK (pada tahun 2010 tidak dapat).
Daerah ini sangat potensial untuk pengembangan agrowisata, karena berada di dataran tinggi, lokai bukitnya strategis dengan pemandangan indah dan luas, dari sini dapat melihat ke daerah Minahasa, kota Bitung, danau Tondano, sebagian Manado, dll. Sudah lama daerah di kecamatan Tomohon Timur ini dikenal sebagai sentra sayuran seperti; kubis, kembang kol, tomat, buncis, kacang panjang, sawi, pak choi, brokoli, wortel, cabe, bawang daun, dll. Secara tradisional produksi sayuran daerah ini telah lama memasok kebutuhan di kota Manado, Bitung, Kalimantan Timur, Ternate, Papua, Maluku, dan daerah lainnya di Kawasan Timur Indonesia. ![[ design-weedus ]](http://www.hortikultura.go.id/templates/weedus02/images/bottom-right.gif)